Skip to main content

Bernafas dalam 3 Hati (Cinta hadir saat Aku membaca Novel) (Part 1)

Judul : Bernafas dalam 3 Hati
Chapter 1 : Cinta hadir saat Aku membaca Novel
Genre : Romance (Remaja)
Karya : Riki Bahari


      Dinginnya angin malam menyelinap membuat sebagian hordeng kamar niko terbuka. Nikopun bangun saat sapuan angin malam yang dingin menyapu sebagian tubuhnya yang pada saat itu hanya mengenakan celana pendek warna cokelat dan kaos berlengan pendek berwarna hijau. Ternyata dia baru sadar bahwa jendela kamarnya belum terkunci dengan benar. Dengan mata yang masih sipit... dan ngantuk berat ia langsung memeriksa dan mengunci jendelanya.

      Pagipun menjelang.. Semakin lama rasa hangat mulai berubah menjadi menyengat, secercah cahaya matahari pagi yang berhasil menyelinap masuk lewat jendelanya kini berusaha menggangu lelapnya tidur niko. Dengan sikap malas niko langsung menutup mukanya yang terkena sinar mentari dengan bantal cokelat kesayangannnya. Yah itu adalah bantal kesayangannya yang sudah lama dimiliki sejak ia masih SD sampai kini ia sudah kelas 11 SMA.

      “Sial!!! Udah jam segini lagi...Parah” Niko semakin panik ketika ia melihat jam kecilnya yang terletak tepat di atas meja belajarnya kini menunjukan pukul tujuh pagi. Dengan jurus kilatnya niko langsung lari bagaikan lari sprint menuju kamar mandinya. “Iko...!! Niko...!! bangun sayang kamu kan hari ini sekolah” ..”iah mah bentar ini juga lagi siap siap”. Niko langsung pergi bergegas ke meja makan mengambil dan memakan roti isi yang sudah disiapkan ibunya. “mah Niko pergi dulu ya.. Assalamualaikum”..”Hati hati ya...”.

      Niko adalah siswa SMA yang terbilang pintar disekolahnya, namun sikap malas malasannya itu yang tidak bisa ia tanggalkan. Walaupun dia malas dalam beraktivitas, disini ia selalu rajin jika dalam hal pendidikan. Ia sangat bertekad dalam hidupnya bahwa ingin memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuanya. Masa masa SMA emang tidak lepas dengan yang namanya kisah kisah cinta. Begitupun kini saya sebagai penulis akan memberikan kisah kisah Niko pada masa SMA nya.

      Suatu ketika saat jam istirahat sekolah terlihat niko yang sedang asik ngumpul bareng temennya yaitu adrian dan joe di sebuah meja kantin sambil menikmati satu mangkuk bakso pak bejo tukang baso langganan niko dan teman temannya.

      “Nik loe sama marry gimana? Masih lanjut?” disela kebersamaan niko dalam makan baso bareng tiba tiba adrian teman niko menanyakan tentang marry pacar niko yang kini berpisah dengannya alias LDR (Long Distance Relationship). Niko hanya terdiam bahkan sempat mengalihkan pembicaraan. “sudahlah Nik.. mendingan loe cerita aja sama kita kita tentang masalah loe selama ini, masa sih sama temen sendiri gak terbuka?!” sahut Joe ketika niko mulai mengalihkan pembicaraan.. “benar tuh nik kata joe” adrian yang mencoba menegaskan kembali perkataan joe kepada niko. Dan kini niko memulai bercerita tentang isi hatinya pada saat itu.

      “saya sama marry sudah lama bersama dan sudah lama pula kami pacaran jarak jauh, tentu masalah atau konflik dalam hubungan kita pasti selalu ada, mulai dari kesalah pahaman, keingin saling dimengerti, saling diperhatiin dll,.. semuanya terjadi tidak seperti yang saya kira”. Dengan menarik nafas panjang kemudian adrian merespon cerita niko “mmmph... gimana yah susah juga siih.. kalo ngejalani hubungan jarak jauh, apa lagi kalo pasangan tersebut tidak mau saling ngertiin, dan gw saranin ke loe supaya lebih lagi deh dalam merhatiin marry, jangan terlalu sibuk dgn dunia loe aja.. mungkin marry sekarang membutuhkan kasih sayang dari seseorang yaitu loe, dan jangan sampai dia mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Loe gak mau kan marry sama orang lain??”..”Ya Allah driin... gila aja kali ya kalo gw mau pacar gw sama orang lain, ya gk lah gw gk rela...” niko langsung menjawab pertanyaan andrian yang sempat membuat niko merasa takut akan kehilangan marry.

      Disisi lain tepatnya di daerah bandung tempat marry berada. Terlihat marry yang sedang asik membaca buku disebuah toko buku ternama di daerah bandung. Marry tidak sendiri, ketika itu marry ditemani oleh temannya yaitu candra. Candra adalah sosok lelaki yang baik dan ramah, candra dan marry terbilang sangat akrab, mereka bersekolah di SMA yang sama bahkan sampai satu kelas bersama. Hampir disetiap marry mendapat kesulitan candra selalu hadir dan ada disamping marry untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mulai dari mengerjakan PR bareng, ke kantin bareng, bahkan berbagi cerita tentang niko pacarnya. Berbeda dengan niko yang jelas pacarnya kini jauh berpisah dengannya.

      Kini marry sedang asik berdiri sambil membaca sebuah novel, tiba tiba tumpukan buku yang berada di rak buku tepat di atas kepala marry mulai rapuh dan terlihat akan jatuh.. dan... Braak!!! Dengan seketika dari arah belakang candra mendorong marry dari tempat awal marry berdiri. Al hasil kini candra dan marry jatuh bersamaan. Posisi candra tepat diatas marry dan menindih tubuh marry. Kedua pasang mata anak remaja itu saling bertatapan, semuanya sunyi sepi waktu bagaikan berhenti sejenak. Kini ada yang aneh pada jantung candra ia merasa ada yang berdetak detak kencang di dalam dadanya. Setelah beberapa saat marry melihat sebuah cincin di jari manis kanannya. Ia langsung bangun seketika dari posisinya. Cincin itu adalah cincin pemberian dari Niko. “maafkan saya mer...” dengan raut muka yang gugup malu dan rasa bersalah candra meminta maaf kepada marry. Namun marry malah lari keluar dari perpustakaan meninggalkan candra. Ia memilih untuk pulang ke rumah mengingat hari yang mulai sore. Ketika marry meninggalkan candra, candra hanya diam dan merenungi peristiwa yang telah terjadi, kini hal yang sangat candra takuti mulai terjadi. Ia jatuh cinta kepada marry.

      Diperjalanan pulang menuju rumahnya, marry masih terbayang dan memikirkan peristiwa di toko buku tadi. Marry sangat bingung.. ia sangat merasa bersalah ketika ia mulai merasakan hal aneh kapada candra. Ia takut jatuh cinta kepada candra. Ia tau bahwa ia sekarang sudah mempunyai kekasih yaitu niko yang sekarang jauh dari sisinya dan tidak mungkin marry selingkuh dari niko karena marry masih sangat menyayangi niko. Fikiran marry semakin kacau. Ia juga berfikiran tidak mungkin ia meninggalkan candra seorang teman akrabnya. Candra sudah banyak sekali berkorban untuknya, di saat marry sedih dan merasa sendiri hanya candra yang mampu membuat senyuman indah di bibir marry. Hampir disetiap hari hari marry sosok candra selalu hadir menghiasi.

      Setelah beberapa jam marry pun sampai di rumahnya. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Perasaannya kini sedang terguncang. Ia hanya bisa menangis.. menangis dan menangis.. “mengapa semuanya terjadi seperti ini?? Apa salah saya, sampai sampai saya harus menjalani semuanya dengan berat??!!!!” marry meluapkan perasaannya dengan mencoret coret sebuah buku kecil yang ada ditangannya yang tak lain adalah buku hariannya. Tak lama marry pun meraih telephone selulernya yang berada tepat di atas meja kecil kamarnya ia langsung menelfon niko kekasihnya “...tuut...tuuut... ‘maaf no yang anda tuju sedang sibuk’” terus mencoba telfon dan mencoba lagi dan.... “ia hallo...” suara khas niko terdengar dari telfon seluler milik marry.. “sayaaang I Love U” marry mengucapkan kata kata cinta kepada niko dengan nada menangis sendu.. “I Love You Too mer.... kamu kenapa? Ada apa dengan kamu”.. “aku gk apa apa.. niko maafin aku yaaa.. aku sayang kamu nik.. sayang kamu..” ...”maaf untuk apa?...” tuuuuut.....tuuuut... dan telfonpun terputus.

      Menerima telfon dari marry Nikopun semakin panik, ia bingung dengan apa yang terjadi pada marry. Kemudian setelah habis semesteran ia memutuskan untuk pindah sekolah ke SMA dimana marry bersekolah. Ia pindah sekolah dengan tak lain bertujuan agar lebih dekat lagi dan ingin memperbaiki hubungannya dengan marry. Ia pindah sekolah tidak memberitahukannya kepada marry. Niko bertujuan untuk memberikan kejutan pada marry kekasihnya.



apakah yang akan terjadi ketika Niko, Marry, dan Candra hadir bersama???

Bersambung....




Bernafas dalam 3 Hati Chapter 1 : Cinta hadir saatku membaca Novel

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Obor Terakhir

Sumber Gambar:  POS RONDA Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian. Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan. Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku. Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam. Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan. Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga. Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat. Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut. Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku. Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan. Aku semakin dilema.  Lagi dan lagi, aku ...