Skip to main content

Obor Terakhir

Obor Terakhir
Sumber Gambar: POS RONDA

Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian.
Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan.
Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa
Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku.

Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam.
Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan.
Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga.

Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat.
Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut.
Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api.
Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku.

Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan.
Aku semakin dilema. 
Lagi dan lagi, aku kalah dengan rasa yang ada di dalam dada ini. Aku mulai terbakar.

Oborku ternyata tak selamanya mengibarkan apinya.
Perlahan ia redup. 

Malam itu sangat dingin. Tapi dingin itu tak bertahan lama.
Semua terbunuh akan hangatnya kisah-kisah kita.
Kisah yang seharusnya tak saling terucap, namun karena rasa percaya. Bibir ini tak kuasa berbagi kisah.

Aku semakin tahu tentangmu. Aku semakin memegang erat oborku.
Senyummu yang manis adalah janji yang selalu ku bawa.
Aku berjanji kamu adalah yang terakhir bagiku.
Aku adalah orang yang tak biasa mengungkap sebuah rasa.
Jika ada kata yang lebih dari kata “Sayang” aku akan mengucapkannya kepadamu.

Malam ini kembali sepi bahkan lebih sepi dari malam malamku yang dulu.
Hati ini seketika menutup. Tertutup rapat.
Tetes air mata tak terasa jatuh dalam keramaian.
Musik gembira pada pasar malam itu seketika meredup dalam telingaku. Gerimis pun datang merayu, menjemputku untuk pulang seraya melepasmu.


Obor Terakhir
Obor Terakhir

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Sisi lain sebuah Puisi "IBU INDONESIA" karya Sukmawati

Aku akui bahwa diriku adalah seseorang yang tersesat dalam dunia sastra. Aku sangat tertarik dengan dunia sastra sejak dulu, awal kumengenalnya saat bertatap muka dengan matapelajaran Bahasa Indonesia, kala itu bahkan aku masih mengenakan seragam merah putih. Hal yang paling aku suka dari sastra adalah sebuah seni merangkai kata, untaian kata yang penuh emosi bahkan kontroversi. Sastra dapat meluluhkan jiwa setiap insan. Tak mengenal ia seniman atau seorang preman. Bagiku sastra adalah hal yang paling tepat untuk setiap insan meluapkan emosinya dalam bentuk yang “berbeda”. Sastra bisa berupa sebuah puisi, pantun, bahkan cerita. Kekuatan sastra adalah sebuah karya seni yang tak hanya sekedar untaian kata semata. Karya sastra memiliki sebuah “cerita” atau sudut pandang yang berbeda-beda. Tergantung intrepretasi sang pembaca. Bpk Sapardi Djoko Damono seorang pencipta puisi “Hujan di Bulan Juni” pun pernah berkata bahwa “Puisi itu hidup kalo intrepretasinya macem-macem, kalo cuma...