Skip to main content

Cara Membawa Laptop dengan AMAN

Assalamualaikum,
Hi sob, hari ini saya mau berbagi pengalaman saya, ketika pulang sekolah tepatnya jam 15.10 WIB saya memutuskan untuk pulang sekolah. Ketika itu saya abis selesai US (Ujian Sekolah) mungkin entah karena fikiran yang masih cenat cenut effect rumus rumus Matematika konsentrasi saya
pas ngendarain motor bubar. Tepatnya di sebuah perempatan pasar Tegal Danas Cikarang Pusat saya sedang menyebrang, tiba-tiba ada orang yg mengerem mendadak.. sontak sayapun ikut mengerem dan... GUBRAK!!!
sakit si enggak, motor cuman lecet dikit... dan sayapun bangun dengan dibantu bapak penjual es cincau capucino.
Sesampai dirumah layaknya tidak terjadi apa apa saya beraktifitas seperti biasanya. Makan, istirahat, cuci muka dll. dan akupun tak bercerita pada orang tua tentang kejadian tersebut. sekitar jam 4 sore saya mulai bosan dan ingin play music. kuambil laptop punya adeku yang terletak di meja dekat TV ruang tamu. tapi tak puas disitu nampaknya laptop adeku sudah tak asik, kebanyakan nge hag.
saking bosannya dengan laptop adiku. saya memutuskan untuk mengambil laptop punyaku yang ada di tas sekolah yang dibawa tadi.
dan..... Inalilahi... laptop saya penyok ujung kiri bawahnya... mengenaskan laptop ASUS Alumunium yang terbilang masih baru kini cidera!!

TIPS buat temen-temen semua pengguna laptop:
1. Matikan Laptop sebelum laptop itu ditutup, jgn dibiasakan mode sleep (lakukan mode sleep seperlunya saja.)
2. Pakailah softcase laptop (banyak ko di oshop oshop juga)
3. gunakan tas Laptop biar laptop lebih aman.
4. jangan taruh laptop beriringan dengan benda keras
5. siap sedia cover bag (jaga-jaga kalo ujan)
6. Berdoa sebelum pulang
7. Hati hati jika kita sedang berkendara

dan alhamdulillahnya laptop saya baik baik saja, cuman cidera dikit doang. tapi tak apalah buat kenang kenangan juga. hehehe... tapi saya kan jadikan ini sebagai pelajaran yang sangat berarti. dan buat temen temen jaga baik baik laptop kesayangannya yaaah...

sekian wassalam...

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Obor Terakhir

Sumber Gambar:  POS RONDA Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian. Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan. Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku. Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam. Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan. Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga. Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat. Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut. Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku. Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan. Aku semakin dilema.  Lagi dan lagi, aku ...