Skip to main content

Melata di Padang Pasir

afrika-namibia-pemandangan-1170029
Sumber Gambar: pixabay.com

Bagaikan secerca air
Berkilau di tengah desiran pasir panas
Kulihat semakin jelas
Kugapai semakin lepas
Semua semu
Keindahan hanya sebatas imaji
Semakin ku memaksa
Semakin ku terluka
Berjalan tak bisa
Melata pun tak kuasa
Aku kira tak mengapa
Juangkan secerca harapan
Dalam satu titik kegelapan

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Obor Terakhir

Sumber Gambar:  POS RONDA Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian. Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan. Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku. Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam. Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan. Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga. Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat. Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut. Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku. Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan. Aku semakin dilema.  Lagi dan lagi, aku ...