Skip to main content

Sisi lain sebuah Puisi "IBU INDONESIA" karya Sukmawati


Aku akui bahwa diriku adalah seseorang yang tersesat dalam dunia sastra. Aku sangat tertarik dengan dunia sastra sejak dulu, awal kumengenalnya saat bertatap muka dengan matapelajaran Bahasa Indonesia, kala itu bahkan aku masih mengenakan seragam merah putih.
Hal yang paling aku suka dari sastra adalah sebuah seni merangkai kata, untaian kata yang penuh emosi bahkan kontroversi. Sastra dapat meluluhkan jiwa setiap insan. Tak mengenal ia seniman atau seorang preman. Bagiku sastra adalah hal yang paling tepat untuk setiap insan meluapkan emosinya dalam bentuk yang “berbeda”.

Sastra bisa berupa sebuah puisi, pantun, bahkan cerita. Kekuatan sastra adalah sebuah karya seni yang tak hanya sekedar untaian kata semata. Karya sastra memiliki sebuah “cerita” atau sudut pandang yang berbeda-beda. Tergantung intrepretasi sang pembaca. Bpk Sapardi Djoko Damono seorang pencipta puisi “Hujan di Bulan Juni” pun pernah berkata bahwa “Puisi itu hidup kalo intrepretasinya macem-macem, kalo cuman satu ya sekali baca sudah habis”.

Ibu Sukmawati dengan Buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia
Ibu Sukmawati dengan Buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia

Membahas tentang viralnya puisi “Ibu Indonesia” karya Sukmawati. Entah apakah Aku harus bahagia atau sedih mendengar kabar itu. Di sisi lain Aku turut bahagia karena secara tidak langsung citra puisi kembali terangkat bahkan viral. Tapi sejujurnya saya lebih sedih, citra puisi memang sedang gencar dibicarakan tapi dalam konteks negatif. Sungguh sangat disayangkan.
Dalam puisi “Ibu Indonesia”  terdapat beberapa baris yang isinya membandingkan azan dengan kidung, juga membandingkan cadar dengan sari konde.
Berikut adalah cuplikan puisi yang dimaksud:

“Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu”

Seperti yang sejak awal Aku katakan, Negatif atau tidaknya puisi “Ibu Indonesia” karya Sukmawati tersebut tergantung dari sang pembaca yang mengintrepretasikan. Dan dilapangan mayoritas pembaca mengintrepretasikan puisi tersebut kedalam konteks negatif bahkan termasuk kategori penistaan terhadap Agama. Namun ada beberapa orang yang menganggap puisi itu biasa-biasa saja, hanya sekedar ekspresi jiwa secara personal.
Sukmawati sendiri menolak dan membantah jika puisinya disebut sebagai penistaan.
“Itu suatu realita tentang Indonesia. Enggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” kata Sukmawati.
Jika ditanya, lalu apa yang mucul dibenak diriku? Seperti apakah diriku mengintrepretasikan puisi ini? Oke, sekali lagi ini adalah hanya sekedar opini diriku pribadi. Menurutku Ibu Sukmawati mencoba menggambarkan keindahan Indonesia secara “kebudayaan”, kebudayaan yang indah dan kuat. Beliau memposisikan sebagai seseorang yang cinta kebudayaan dan melepaskan diri dari sudut pandang pengetahuan sebuah ajaran agama.
Tapi.. salahnya Ibu Sukmawati adalah membuat sebuah pembanding yang menurut saya kurang etis. Seharusnya beliau bisa mencari penggantian kata/objek selain kata Adzan dan Cadar, apalagi menyangkutkan kata “syariat Islam”. Sungguh sangat disayangkan.
Ini yang sangat ditakutkan seorang sastrawan. Sebenarnya di lapangan sudah  ada beberapa  karya-karya  sastra jika diintrepretasikan sangat menyinggung sara, namun kebanyakan karya tersebut dikemas secara apik dan bijaksana. Berbeda dengan puisi “Ibu Indonesia”, bahkan tak perlu adanya analisis yang mendalam pasti pembaca khususnya orang awam (tidak mengenal sastra secara mendalam) dengan mudah mengartikan bahwa ini merupakan jelas puisi yang berbau sara.
Menilai puisi ini termasuk kategori sara atau bukan itu juga hak priogatif masing-masing. Apalagi ini adalah sebuah puisi, sebuah tulisan seni yang memiliki unsur fungsi/tujuan yang sangat general. Jadi kita bisa ambil hikmah dari kejadian ini bahwa puisi  adalah salah satu urusan yang sangat sensitif. Bahkan hanya karena puisi kita bisa dipolisikan
Boleh bergalau ria dengan pusis, boleh mengkritik sesuatu dengan puisi, boleh saja kita marah dengan melalui puisi..
Tapi ingat! Budayakan berpusi yang berbudi dan beretika.

Versi Video:

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Obor Terakhir

Sumber Gambar:  POS RONDA Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian. Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan. Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku. Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam. Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan. Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga. Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat. Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut. Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku. Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan. Aku semakin dilema.  Lagi dan lagi, aku ...