Skip to main content

Boyfriend Girlfriend (Amplop Pink) (Part 4)

Judul    : Boyfriend Girlfriend (Amplop Pink)
Gendre : Romance (Remaja)
Penulis : Riki Bahari


            Hari ini adalah hari terakhir Andre di rawat di rumah sakit. Semua barang sudah dikemas dengan rapih, Andre dan keluarganya sudah siap untuk pulang ke rumah. Akhirnya Andre sampai di rumah sekitar jam 2 lewat 30 menit. Andre sangat merindukan suasana kamarnya itu, tak butuh waktu lama ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Memeluk bantal guling, menarik panjang nafasnya meraskan aroma khas kamarnya. Seketika dibenaknya teringat dengan
sebuah amplop pink yang selalu ia temukan di motornya. Andre langsung membuka laci meja belajarnya. Terlihatlah puluhan amplop berwarna pink. Amplop itu sengaja ia kumpulkan. Hampir setiap hari Andre selalu mendapatkan ampop pink itu. Dan sampai saat ini Andre masih belum mengerti dengan maksud si pengirim amplop. Apa maksudnya si pengirim mengirimkan sebuah amplop kosong. Ya!! semua amplop itu kosong alias tidak ada isinya.

            Andre kemudian mengambil salah satu dari amplop itu. ia putar balik melihat meneliti dengan rasa penasaran yang amat sangat tinggi. Andre semakin bingung dan penasaran. Sampai akhirnya ia melihat sebuah huruf “S” sangat kecil di belakang amplop itu. Andre pun semakin penasaran dan ingin tahu apa maksud dari huruf “S” itu.

            Ketika pulang sekolah terlihat Andre sedang mengendap-endap layaknya sang detektif. Ia bertujuan untuk mencari tahu siapakah sebenarnya si pengirim amplop itu. 10 menit.. 20 menit.. sampai 2 jam berlalu rupaknya tak ada tanda-tanda orang mencurigakan di sekitar motor Andre. Rupanya Andre tidak putus asa, di hari selanjutnya ia melakukan misi yang sama. Sampai suatu ketika ia melihat seorang gadis mendekati motornya. Gadis itu tepat membelakangi pandangan Andre. Andre hanya melihat seorang gadis dengan rambut panjang terurai yang menutupi sebagian tas pink yang tergendong di punggung gadis itu. Ketika gadis itu mencoba mengeluarkan sesuatu dari tasnya, terlihatlah sebuah wajah yang tak asing dimata Andre. Dan gadis itu ternyata adalah Sofie, siswi kelas 10b. “Ya Tuhan, ternyata dia yang selama ini ngirimin amplop-amplop kosong itu”. Dan kini Andre pun tahu siapa yang selama ini mengirimkan amplop pink kepdanya.

            Berbagai macam aroma makanan bercampur menjadi satu. Terlihat begitu panjang antrian siswa/i yang mengantri makanan di setiap stand kantin.  Di stand sudut timur terlihat Sofie sedang membeli bakso langganannya.

“Ini Pak uangnya..”
“Biar saya saja pak yang bayar” tiba-tiba Andre datang untuk membayarkan bakso yang Sofie beli.
Sofie terlihat gugup, melihat di hadapannya berdiri tegak seorang pria yang selama ini ia sukai.
“Oh.. gak usah..”
“Sudahlah.. anggap aja ini ucapan terimakasih dari aku”
“Terimakasih buat apa?”
“Mending kita duduk dulu aja, gak enak ngobrol sambil berdiri”

            Merekapun kini duduk bersama sambil menikmati bakso yang mereka beli. Andre membuka pembicaraan dengan menanyakan seputar kegiatan Sofie, mulai dari membahas hobby masing-masing.

“Oh iya.. gimana enak gak di kelas 10b?”
“Yaa... enak-enak aja.., malah lebih enak kamu kayaknya yang masuk kelas unggulan 10a”
“Ah biasa aja si.....”

            Tak butuh waktu lama kini mereka sudah terlihat begitu akrab. Rupanya Andre sudah mulai terbiasa ngobrol dengan Sofie. Begitupun sebaliknya. Kegugupan Sofie yang mulai meluntur oleh hangatnya pembicaraan mereka.

“Gila.. baru kali ini gue ngobrol asik nyambung sama cewek, ternyata Sofie orangnya asik juga ya..” seru Andre dalam hati.
“Oh iya... tadi kamu bilang sebagai ucapan terimakasih, itu maksudnya apa?”
“Yaa... terimakasih aja buat amplopnya!”
“Maksudnya Amplop?”
“Yaa... Amplop. Yang selama ini kamu kirimin buat gue?!”
“Mampus Gue!! Mau ngomong apa gue ya Allah...!!!” Sofie membisu seketika, bibirnya terlihat mengunci dan bergetar. Terlihat pula pipinya yang mulai memerah menahan malau bahwa Andre sudah tau tentang amplop itu.
“Santai aja kali Sof..., dan yang bikin gue gak terima kenapa amplop itu kosong?? Di isi apa ke.. duit ke biar kayak ampaou haha..!!”
“Ah.. itu cuman iseng aja 
J maa yaa.. kalo semua itu bikin kamu risi”
“Oh.. gak apa-apa ko”

            “Selamat Pagi Dunia!!” Ke esokan harinya terlihat Sofie yang begitu semangat dan ceria dari hari sebelumnya. Ia menggoes sepedanya dengan diiringi nyanyian-nyanyian kecil dari bibirnya.  Ketika Sofie hendak meletakan tasnya ia melihat sebuah amplop berwarna Biru dan semangkuk Bakso tepat berada di meja tempat duduknya. Sofie hanya diam dan bingung. Setelah ia buka amplop itu terdapat sebuah kartu ucapan “Happy Birthday ya Sof.. Panjang umur sehat sealu. Semoga kamu suka sama warna amplopnya dan semoga amplop biru ini cocok bersanding menemani amplop pink hehehe..” tertulis Andre.

            Sofie tidak mengira bahwa ternyata Andre tahu tanggal ulang tahunnya. Walau awalnya ia sempat bingung.
“Ya ampun!! Ini seriusan dari Andre anak 10a itu?? Is so sweet...” tiba – tiba Tania teman akrab Sofie menyerobot dan membaca kartu ucapan yang saat itu sedang Sofie baca.
“Aduuh... apa-apa an si looh.. bukan ko bukan... sini kembaliin”
“ahhh,,, jangan bohooong... cie..cie.. selama ini si Princess yang rela ngejomblo untuk sang Prince, akhirnya dikasih sinyal juga dari sang Prince”
“Ah.. apa apa an si kamu... ada-ada aja”
“Ya udaah nih... kartunya. Tapi masa hadiahnya Bakso si?”
“Biarin si tan... Lagian gue mah gak menilai hadiahnya itu apa”

            Kayaknya Hari ini adalah hari terindah untuk Sofie nih. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Sofie ya? Ok lanjut cerita. Kini ada yang berbeda dengan Sofie. Ia terlihat lebih ceria dan bahagia sampai-sampai tak biasanya ia kerjakan semua kerjaan rumah mulai dari nyuci piring sampai menyetrika baju ia lakukan. Selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah ia langsung menuju kamarnya untuk sekedar mengistirahatkan tubuh lelahnya itu. tak lama kemudian ia meraih Buku hariannya dan menuliskan semua perasaan yang saat ini ia rasakan.
“Dear Dairy.. Hari ini gue seneng pake banget!! Di hari ulang tahun gue yang ke 15 ini, gue dapet kado terindah yaitu ucapan selamat dari si Dia!! Aaaghh Seneng bangeeet!! Dan kayaknya Bakso yang tadi saya makan adalah bakso terenak di dunia. Bakso yang sama, dengan resep yang sama bahkan penjualnya pun masih sama.” – Sofie 

(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

a Cup of Cappuccino

Judul : a Cup of Cappuccino Gendre : Romance, Remaja Pengarang : Riki Bahari Sore itu Jakarta sedang diguyur hujan yang sangat deras, cuaca tersebut cukup memaksa seseorang untuk mengenakan jaket atau mantel tebal. Namun, di balik tembok kafe itu terlihat sangat kontras. Musik lembut yang mengalun, hangatnya lampu yang terpancar ke seluruh dinding, berbanding terbalik dengan keadaan di luar ruangan.  Kafe dengan desain vintage itu setiap harinya memang sangat rampai di kunjungi. Tak hanya nuansa ruangannya yang unik dan nyaman, namun cita rasa kopi yang disuguhkan dalam menu nya memang sudah melekat sekali di hati para pelanggan setia, dan mungkin Sandra adalah salah satu pelanggan setia yang sudah jatuh hati dengan nikmatnya kopi tersebut. “Cappucinonya satu, gulanya sedikit saja”. “Ada lagi?” tanya si pelayan kafe itu kepada pelanggan wanita yang duduk di meja No. 19 itu. “Cukup itu saja”. “Ok terimakasih, pesanan akan segera kami antar”. Sandra, gadis manis berambut...

Belenggu Masa Lalu

Satu tetes, duatetes Mengalir Menggores Perih Gelap Mendung Mendera Teriak Hati Tak Bertenaga Satu detik, dua detik Berhenti nafas, Ku tak mampu Paru Terbelenggu Rasa Pilu Sebuah Potret Masa Lalu Sumber: pixabay.com

Obor Terakhir

Sumber Gambar:  POS RONDA Mungkin ini adalah akhir dari sebuah pencarian. Pencarian yang setiap jalannya selalu diselimuti kabut kegelisahan. Bukan berarti aku tak lagi percaya akan sebuah cinta, bukan pula aku sudah menaruh kecewa Namun sekarang aku merasakan titik lemah, merasa sudah tak sanggup lagi, aku sangat lelah. Kamu adalah penutup lembaran kisahku. Kita bertemu dalam sebuah kabut hitam. Sama-sama berjuang mencari satu titik terang dalam kegulitaan. Sama-sama berjuang memecah kesendirian dan dinginnya sepi yang menusuk raga. Malam itu, di setiap langkah kakiku menyimpan history yang kental ku ingat. Tatapmu perlahan memecahkan sepi, dan pelukmu perlahan membunuh rasa takut. Aku tahu ini salah, aku tahu bahwa aku tak boleh bermain-main dengan api. Tapi, inilah satu-satunya cara untuk memberikan sebuah terang dalam sepiku. Hujan turun sangat deras, seakan tak rela melihatku membawa obor kebahagiaan. Aku semakin dilema.  Lagi dan lagi, aku ...